Jendela Dunia di Ujung Indonesia Timur

| 27-01-2015   10:11:19 WIB | count view (584)

Suatu hari ketika pelajaran berlangsung ada salah seorang anak muridku bertanya

                “ Pak Guru, di perpustakaan itu biasanya ada berapa banyak buku?”

                “ Banyak nak, ada puluhan, ratusan bahkan ribuan, tergantung sebesar apa perpustakaannya”

                “Biasanya perpustakaan itu sebesar apa Pak Guru?”

                “Ada yang sebesar katong pu kelas(kelas kita) ada juga yang sebesar katong pu lapangan bola”

                “Ninooo(ungkapan terkejut), ada yang sebesar itu juga pak guru. Kalau begitu kitong boleh main kejar disana?”

                “ Boleh, kalau kamorang mau di jewer om satpam”

Sejenak mereka diam kemudian tertawa..

                “Kalau begitu katorang diam – diam saja biar tidak di jewer om satpam”

                “ Pak Guru, nanti kalu ke perpustakaan ajak beta yah, dengan yang lain juga sudah biar ramai”

                “Iya Nak..”

                Aku mengakhiri percakapan tersebut dengan mengiyakan keinginan mereka. Tak pernah kusangka jika mereka ternyata sangat penasaran akan perpustakaan dan juga isinnya. Bagiku tentu saja perpustakaan bukanlah hal yang asing lagi karena sudah seringkali aku memasukinya, dan bahkan sampai bosan aku melihatnya. Namun, bagi mereka perpustakaan adalah hal baru yang belum bisa mereka jamah karena memang belum ada gedungnya disekolah. Adapun yang mereka tahu hanyalah satu rak buku kecil dirumahku yang kupenuhi dengan buku – buku dan kutulisi “Perpustakaan Ceria” diatas rak nya.

                Mengetahui hal tersebut akupun memutar ide bagaimana caranya agar perpustakaan bisa ada disekolah. Dirumah guru sudah ada 8 dos buku hasil sumbangan dinas yang diantar 6 bulan lalu, namun masih tetap ditempatnya dan bahkan beberapa telah rusak dimakan tikus karena tak ada yang memperhatikannya. Sayang jika buku – buku tersebut tidak dimanfaatkan, apalagi setelah tahu bahwa anak – anak ini sangat haus akan pengetahuan baru. Aku melihat berbagai celah yang ada untuk kusisipi rak buku untuk perpustakaan, mulai dari kelas dan juga rumah guru. Namun hasilnya nihil, tidak ada tempat yang cukup luas untuk menampung semua buku. Ditengah – tengah lamunanku tiba – tiba aku teringat akan sebuah lorong kosong diantara 2 ruang kelas yang ada. Ukurannya cukup lumayan untuk menampung 7 rak buku untuk perpustakaanku.

                Mendapati ide tersebut akupun segera mengkoordinasikannya dengan shabat dan juga rekan kerjaku, Pak Kepala Sekolah. Aku menceritakan pada beliau akan usulan ini dan alhamdulillah ternyata beliau juga mempunyai ide yang sama denganku. Tak perlu menjelaskan banyak alasan ke beliau akan usul pengadaan perpustakaan ini karena beliau ternyata juga mempunyai pemikiran yang sama denganku. Kata beliau, tinggal menunggu bulan depan saja saat beliau kekota, nanti bahan untuk perpustakaan akan dibeli dikota. Mendengar hal itu akupun mengiyakannya dan bisa sedikit lega. Akhirnya ada jalan agar anak – anak ini bisa menambah ilmu diluar kelas.

                Bulan barupun datang, jonson(Perahu kecil) milik kepala sekolah melaju ke kampung dengan bahan material pendukung perpustakaan seperti triplek, kayu dan juga cat. Esok harinya sepulang sekolah, aku dan kepsekpun mulai mengerjakan perpustakaan ini. Tentu saja dengan bantuan bapak tukang agar semua bisa berjalan dengan cepat dan rapi. Sekitar dua hari perpustakaan inipun jadi. Aku melihat banyak ekspresi penasaran dari anak – anak akan ruangan yang dibangun dari menyekat lorong kelas ini. Maklum saja mereka penasaran karena aku sendiri tidak memberitahukan kepada mereka untuk apa ruangan ini. Aku ingin memberikan kejutan kecil untuk mereka.

          Setelah ruangan ini jadi, akupun segera menginstruksikan anak – anak untuk mengambil rak buku dirumah guru untuk segera dibersihkan, lengkap dengan bukunya juga pasti. Ditengah tengah proses membersihkan buku tiba – tiba ada anak yang bertanya karena saking penasarannya;

“ Pak Guru, ruangan itu mau dibikin apa kok di tutup pakai triplek begitu?” “ Iya Pak Guru, kenapa kita juga harus kerja bersih rak ini?”

“Akupun tersennyum dan kujawab, Katanya kalian ingin perpustakaan, ini pak guru dan Pak kepala sekolah sudah bikin”

“ah, pak guru tipu – tipu ini”

“ Siapa tipu – tipu, kau ingat apa saja isi perpustakaan seperti apa yang pak guru bilang kemarin dulu?”

“emmm. Ada banyak buku, rak dan juga meja “

“ Nah, betull, itu yang kau bersihkan sekarang apa saja”

“Eh iya pak guruu, horeeeeee katong pu perpustakaan baru”

            Serempak mereka berseru karena senang nya. Setelah itu aku langsung memandu mereka untuk merapikan buku di rak yang ada didalam. Tanpa harus dikomando merekapun sudah bergerak dengan sendirinya saking senang nya. Akhirnya sekali lagi aku bisa meihat mereka tersenyum. Senang sekali bisa selalu melihat senyuman diwajah polos anak – anakku ini. Sebentar lagi kau akan bisa membaca nak setiap hari. Jendela dunia telah terbuka untukmu dan gudang ilmu itu sudah siap untuk kau gunakan kapanpun kau mau, tinggal kau ambil saja bukunya dan luangkan waktumu untuk membaca, entah dihutan ketika kau pergi bermain ataupun dikebun ketika kau bantu mama atau bapak, yang penting dijaga yah biar adik – adikmu kelak juga bisa membacanya.

 

Sumber :: http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/angga-okta-fambudi/jendela-dunia-di-ujung-timur-indonesia

::https://www.facebook.com/IndonesiaMengajar/photos/a.154763741216010.30067.124834754208909/1065910936767948/?type=1&theater

 

Suatu saat, datanglah kesini anak bangsa, di Library UUI. :)

Facebook Twitter Google Digg Reddit LinkedIn Pinterest StumbleUpon Email